Monday, 15 August 2011

Profil Penerima Penghargaan Achmad Bakrie

Setiap menjelang perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Freedom Institute didukung oleh Bakrie Untuk Negeri memberikan Penghargaan Achmad Bakrie kepada enam anak bangsa yang berprestasi. Untuk tahun 2011, Penghargaan Achmad Bakrie diberikan kepada:



Adrian B. Lapian (Pemikiran Sosial)

Adrian B. Lapian adalah sejarawan maritim yang membuka lembaran baru penulisan sejarah kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Tanpa henti ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut.Bukunya, Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, memberi sudut pandang baru yang segar dan berbeda terhadap penulisan sejarah yang bertumpu pada pengalaman manusia di daratan, merombak pemahaman tentang bajak laut dalam sejarah Indonesia, dan mengoreksi citra kemerosotan pelayaran pribumi pada abad ke-18 dan ke-19. 

Bagi Lapian, ilmu sejarah tidak hanya sekadar suatu latihan akademis yang eksotik, tapi sejarah memainkan peran penting dalam menjaga episodic memory bagi pembinaan kewarasan berbangsa. Sebagai sejarawan, Lapian bak pluit kapal yang santer dan tak henti-hentinya mengingatkan ihwal kebaharian kita. Menurutnya, melupakan lautan membuat Indonesia menjadi bangsa yang ‘ketinggalan kapal’ dan membuat masa depannya tercecer tak karuan. Anthony Reid, sejarahwan terkemuka asal Australia, pernah berkata: “tidak ada sarjana Indonesia yang mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan lebih baik dari Adrian B. 

Lapian.” Lapian pantas mendapat pujian ini, sebab ia telah membuka lembaran baru dalam penulisan sajarah Indonesia. Ia merintis jalan baru studi sejarah Indonesia sebagai sea system sebagai satuan-satuan jaringan bahari yang berproses menjadi satu-kesatuan wilayah besar yang saling terintegrasi. Sebulan setelah Dewan Juri memutuskannya sebagai penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2011 untuk pemikiran sosial, Adrian B Lapian wafat. Sebelum menghembuskan nafas terakhir di Jakarta, 19 Juli 2011, Adrian sempat dirawat di RSPAD.

Nh. Dini (Kesusastraan) 

Sepanjang karirnya sebagai penulis, Nh. Dini telah memperkuat realisme, merintis ideologi anti-patriarki, dan mendalami novel autobiografis, dalam sastra berbahasa Indonesia. Sastra ”realisme fotografis”-nya kaya dengan detail. Pencapaiannya menonjol dalam menggali dunia perempuan, termasuk seksualitas tersembunyi, khususnya perempuan Jawa. 

Novel-novelnya menjadi induk dari novel-novel populer yang ditulis pengarang perempuan, juga menjadi pendahulu bagi karya sejumlah penulis-perempuan yang sejak akhir 1990-an mendorong lebih jauh lagi feminisme ke arah pengungkapan seks dan seksualitas. Novel-novel otobiografisnya sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan baik. 

Dalam sastra Indonesia, dunia perempuan sebelumnya hampir selalu dilukiskan oleh pengarang laki-laki. Tetapi Dini merebut itu semua dan menegaskan bahwa perempuan hanya bisa tampil wajar dalam fiksi jika dikisahkan oleh perempuan sendiri. Perempuan memiliki suaranya sendiri yang bukan lagi pemalsuan dari suara laki-laki. Dalam novel autobiografis riwayat hidup si pengarang menjadi bahan utama pengisahan. Tetapi hanya pengarang yang cemerlang seperti Dinilah yang sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan amat baiknya. 

Beda Dini dari para penerusnya adalah novel-novelnya hadir dengan kualitas bahasa yang tetap terjaga. Kalimat-kalimatnya kokoh, pelukisannya tentang sesuatu tampak halus, kadang samar-samar, sehingga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menerka-nerka. 
  
Satyanegara (Kedokteran) 

Sejak 1967, Satyanegara melakukan kajian imunologi tumor otak. Ia menemukan protein dan antibodi spesifik tumor yang dapat menghambat pertumbuhan dan memusnahkan sel-sel tumor tersebut. Pengalaman klinis dan berbagai kajiannya mengenai tumor otak, mendorongnya melengkapi berbagai alat penunjang diagnostik bedah saraf di Indonesia. 

Satyanegara merupakan pelopor yang menentukan standar rumah sakit di Indonesia berdasarkan riset-riset kedokteran terbaru di dunia. Ia juga penulis satu-satunya buku teks ilmu bedah saraf dalam bahasa Indonesia. Ia layak disebut sebagai peletak fondasi sekaligus wali ilmu bedah saraf di Indonesia. 

Satyanegara berperan besar dalam penggunaan immunoterapi sebagai terapi alternatif, yang banyak diterapkan untuk kasus-kasus tumor jenis glioma, di mana sistem imunitas tubuh menurun. Pasien glioma yang diterapi terutama adalah yang mempunyai harapan hidup panjang, atau tidak menjalani tindakan terapi lainnya.  

Penelitian Satyanegara mengenai tumor otak turut mendorong dilengkapinya berbagai alat penunjang diagnostik di Indonesia. Ia mendorong pemasangan CT scan pertama kali di RS Gatot Subroto pada Februari 1980. Ia juga menentukan dalam penggunaan sinar laser untuk pembedahan otak di RS Pusat Pertamina, penggunaan MRI di RS. Dr.Ciptomangunkusumo, disusul RS. Pusat Pertamina, pada 1990. Kehadiran Digital Substraction Angiography (DSA) untuk mendiagnosa kelainan vaskuler otak di RS. Pusat Pertamina sejak 1992 terjadi antara lain karena peran Satyanegara. 

Jatna Supriatna (Sains)

Jatna Supriatna adalah ilmuwan biologi dan pejuang konservasi terkemuka. Ia memperteguh pentingnya Wallace Area dengan menjadikan Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya sebagai laboratorium alam untuk mendeduksi proses evolusi. Ia menemukan intergradasi sekunder dan hibridisasi di kawasan tersebut.

Primata hibrid yang ditemukannya menarik perhatian dunia, sebab hibridisasi memungkinkan terjadinya perubahan genetik dan perilaku serta sifat-sifat biologi lainnya. Selain primata hibrid dan monyet spesies baru, ia juga menemukan virus baru pada monyet ekor panjang Jawa Barat. 

Di tengah kesibukannya sebagai peneliti dan pengajar, Jatna juga memimpin beberapa lembaga penting yang terkait dengan profesinya sebagai biolog. Pada 1999 dia dipilih sebagai ketua Indonesia Biologist Association. Pada 2006, dia ditunjuk sebagai presiden South East Asia Primatologist Association, dan pada 2007 dia menjadi salah satu ketua World Conservation Union-SSC PSG South East Asia. 

Jatna telah menulis 10 buku tentang keanekaragaman hayati dan lingkungan Indonesia, dan telah mempublikasikan lebih dari 100 artikel yang tersebar di berbagai jurnal ilmiah Internasional.

F.G. Winarno (Teknologi)  

Selain meletakkan dasar dan mengembangkan ilmu pangan di Indonesia, F.G. Winarno juga memberi karakter pada pertumbuhan teknologi pangan di tanahair, yakni keamanan pangan dan teknologi tepat guna. Ketahanan pangan berhubungan dengan daya saing bangsa. Kondisi ketahanan pangan yang baik akan meningkatkan status kesehatan, yang akan mendongkrak kinerja sumberdaya manusia, dan secara nasional mendorong pertumbuhan ekonomi.

F.G. Winarno memahami betul arti penting ketahanan pangan. Secara konsisten, ia mengkampanyekan pentingnya peranan kecukupan gizi di tingkat individu, agar mampu hidup sehat dan produktif. Ia mendorong pemenuhan gizi ibu “andungteki” atau ibu mengandung dan ibu yang menyusui bayi. Winarno meyakini, jika suatu negara ingin memiliki sumberdaya berkualitas tinggi, maka yang harus dilakukan adalah menjamin bahwa setiap bayi yang dilahirkan bisa mendapatkan asupan gizi yang cukup dan berkualitas. 

Melihat betapa seringnya dijumpai bayi lahir dalam kondisi gizi yang buruk, Winarno aktif dalam program peningkatan gizi untuk ibu sehingga bayi yang lahir akan sehat, dan sang ibu mampu memberikan air susu (ASI) yang berkualitas. 

Keyakinan itulah yang mendorongnya mendirikan Pusat Pengembangan Teknologi Pangan (Pusbangtepa), sebuah lembaga di IPB yang dibiayai Bank Dunia. Melalui lembaga yang dipimpinnya, Winarno mengembangkan ilmu dan teknologi pangan, yang dituntun oleh kesadaran mengenai kondisi budaya dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Teknologi yang dikembangkannya bukan teknologi canggih; tetapi lebih berupa teknologi tepat guna. Selain melahirkan beraneka jenis teknologi yang langsung dibutuhkan masyarakat, Pusbangtepa juga mengembangkan berbagai program pendidikan pangan dan gizi, agar masyarakat mampu memilih dan mengolah sumber pangan yang ada di sekitarnya menjadi menu pangan bergizi.

Hokky Situngkir (Hadiah Khusus untuk Ilmuwan Muda Berprestasi) 

Hokky Situngkir telah melakukan banyak penelitian menarik. Bahan-bahan penelitiannya penting dan pendekatannya tidak tradisional. Dengan sadar Hokky memanfaatkan teknologi modern. Bersama Rolan Dahlan, ia menerbitkan buku Fisika Batik, yang menyorot unsur fraktal dalam motif-motif batik Nusantara. Ia juga mendirikan Indonesia Archipelago Cultural Initiatives (IACI) dan mewujudkan Ensiklopedi Budaya Nusantara. 

Hokky telah menghasilkan lebih dari seratus makalah ilmiah. Hasil penelitiannya dimuat di berbagai proceedings konferensi dan jurnal internasional bergengsi lainnya. Di jurnal Physica A, Hokky Situngkir membahas penggunaan persepsi jaring saraf buatan pada peta Poincare data keuangan. 

Di Journal of Knowledge Management, ia membahas evolusi sistem ekonomi. Karyanya juga dimuat di Journal of Social Complexity, Journal of Peace and Conflict Resolution, Journal of Literary Complexity Studies, Journal of Mathematics and Culture, serta berbagai proceedings konferensi dan jurnal internasional bergengsi lainnya. 

Prestasi-prestasi penelitian tersebut memberikan kesempatan kepadanya untuk tampil dan berbicara di berbagai konferensi ilmiah internasional. Di usia 25 tahun, ia telah mendapatkan kehormatan untuk berbicara di Applications of Physics in Financial Analysis untuk mempresentasikan karyanya dalam penggunaan persepsi jaring saraf buatan dalam analisis data keuangan. 

Pada usia 27, ia telah diundang untuk mempresentasikan karyanya dalam kajian studi pasar modal artifisial di New Economic Windows, sebuah pertemuan ekslusif yang diikuti sejumlah peraih nobel dan sangat menentukan dalam mengarahkan kurikulum ekonomi ke depan. 

Dalam 2 tahun terakhir, Hokky telah mendapatkan 5 penghargaan, untuk karya yang berbeda dari Business Innovation Center bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Hokky juga adalah pembimbing berprestasi bagi para peneliti belia, dalam aktivitasnya bersama Surya Research International dan Surya Institute. 

Beberapa orang siswa binaannya mendapatkan medali emas di International Conference of Young Scientists dan First Step to Nobel Prize in Physics. 

Atas prestasi, ketekunan, dan sumbangan mereka yang luar biasa bagi bidang masing-masing, Freedom Institute memberi para tokoh dan ilmuwan tersebut Penghargaan Achmad Bakrie 2011. Bentuk penghargaan berupa trofi dan piagam serta uang Rp 250 juta, yang akan diserahkan pada malam penganugerahan pada Minggu, 14 Agustus 2011, bertempat di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, pukul 20.00-22.00. 

 (Sumber:• VIVAnews)

2 comments:

al kahfi said...

kunjungan balik, trims sob,salam merdeka & salam kenal,,:)

Arif Ramadha said...

Ok terima kasih banyak sob atas kunjungan baliknya...sering2 mampir...

salam kenal jga...salam semangat..!!!salam Luar Biasa...!!!