Monday, 18 October 2010

Rasulullah SAW dan Pengemis Buta

   Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta. Setiap harinya, pengemis buta itu selalu berkata pada setiap orang yang mendekatinya,"Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."

   Setiap pagi, datanglah Muhammad Rasulullah Saw dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun beliau menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Rasullulah Saw. Rasulullah Saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

   Setelah wafat Rasulullah Saw, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari, sahabat terdekat Rasullulah Saw yakni Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya Aisyah ra yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah Saw. Abu Bakar ra bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?"

Aisyah ra menjawab, "Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaan pun yang belum Ayah lakukan kecuali satu saja. "

" Apakah itu?" Tanya Abu Bakar ra.

"Setiap pagi Rasulullah Saw selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,"kata Aisyah ra.
   Keesokan harinya Abu Bakar ra pergi ke pasar dengan membawakan makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar ra mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?''

Abu Bakar ra menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi kau)."

   "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini menguyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,setelah itu ia berikan pdaku,"sambung pengemis tua itu.

   Abu Bakar ra tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,"Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah satu seorang sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Saw."

   Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar ra, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia..."

   Wahai Saudaraku, dapatkah kita meneladani kemulian akhlak Rasulullah Saw? atau adakah setidaknya muncul niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah 'ahsanul akhlak', semulia-mulia akhlak. Kalaupun tidak dapat kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit. Kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Insya Allah.

nb : Buku Keindahan Rasulullah -Himpunan Kisah dari kekasih Allah-